Two Folded Stories

20/70

Dalam lipatan lusuh sejarah republik ini, ada sejumlah kisah yang hingga kini masih menyisakan luka. Para penyintas 65 sebagian besar telah menua, kesepian, tak jarang sakit-sakitan. Bertemu dan bersendau-gurau dengan para kolega merupakan asupan energi dan kebahagiaan tersendiri. Sayang, kondisi fisik dan rentang jarak membuat banyak dari mereka tak bisa lagi aktif hadir dalam pertemuan.

Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia (Fopperham) menggagas sebuah program kunjungan relawan mahasiswa kepada para penyintas. Diberi nama One Week One Mother. Dalam sehari, mereka menemani kegiatan mbah-mbah, mendengarkan mereka bercerita atau mengantar belanja. Diselenggarakan sejak 2014, hingga kini telah sampai pada angkatan ke-6.

Pertama kali bertemu dengan Mbah Sarjilah, Hendrik merasa gamang. Kisah yang kerap ia saksikan dari film dan ia baca dari buku-buku sungguh berbeda dengan kesan ketika berhadapan langsung dengan para penyintas. Demikian juga yang dirasakan oleh Siti, Munti, Dyah dan Sapar.

Mbah Sutilah gembira ketika dikunjungi oleh para relawan mahasiswa. Ia merasa diterima, diuwongke (dimanusiakan), dan bisa bercerita tentang masa muda mereka – sesuatu yang tak bisa dikisahkan kepada orang lain. Perasaan serupa juga bersemayam di relung hati Mbah Kemirah, Mbah Sarjiyah, Mbah Surati dan Mbah Sujilah.

Ini adalah perjumpaan dua generasi yang terpaut umur lebih dari 50 tahun. Terpisahkan oleh tembok tebal narasi sejarah Orde Baru. Kini ruang- ruang perjumpaan telah melekatkan hati keduanya. Para orangtua, yang telah tersingkir dari masyarakat dan – tak jarang — dari keluarganya sendiri, seperti menemukan cucu baru yang memberi sebongkah cinta dan rasa percaya. Anak-anak muda, yang selama ini dipaksa menelan narasi sejarah tunggal versi Orde Baru, lantas menemukan ruang untuk belajar tentang sejarah bangsa, tentang dignity dan keberdayaan, langsung dari tuturan para penyintas.

Hendrik Sukendar : “Masalah Kita Tidak Seberapa Dari Mereka” Di sebuah kamar persegi, Hendrik Sukendar (27) menggenggam sebuah kacamata baca dan album foto yang telah kusam dimakan usia. “Ketika tua nanti pasti ada masa jenuh. Melihat album foto, kita jadi terhibur. Kita akan butuh benda-benda yang akan mengantar kita ke masa tua nanti,” ujarnya. Kamar itu adalah tempat tinggal Sarjiyah, di sebuah guest house tempatnya bekerja. Hendrik adalah relawan Fopperham angkatan pertama. Kini ia kuliah di Prodi Interdisciplinary Islamic Studies, Konsentrasi Pekerjaan Sosial, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2017. Awal bertemu mbah-mbah penyintas, ia pun terhenyak. “Untuk pertama kali dalam hidup saya bertemu korban 65. Mereka ini kah yang sering disebut ‘komunis’ itu?” Ia sempat gamang. Hingga kemudian, berkumpul dan saling berbagi cerita dengan sesama relawan usai kunjungan, membuatnya semakin teguh. Hendrik jadi rajin belajar sejarah dari buku dan kisah-kisah yang didengar dari Sarjiyah semakin mematangkannya. Kini, dengan luwes ia mengobrol di dapur sambil menemani Sarjiyah memasak atau menyeduh kopi. Menyaksikan kegesitan perempuan sepuh itu, kadangkala terbit rasa prihatin: “Kalau ada apa-apa dengan simbah bagaimana? Ketika sakit minta tolong ke siapa? Ketika mau curhat, curhat ke siapa?” Hendrik mengaku hormat dan belajar banyak dari Sarjiyah. “Kita kadang dapat satu dua persoalan saja mudah galau. Dengan masalah sepele saja mudah tumbang. Saya belajar dari ketegaran Sarjiyah. Masalah kita tidak seberapa dari mereka. Bayangkan, tidak tahu apa-apa, diambil, dipenjara. Mereka masih muda, dan tiba-tiba dipenjara. Apa nggak stress banget? Tapi mereka masih kuat.” Sarjiyah : “….Agar Tidak Ngelangut..” Sarjiyah (76) meraih gitar yang bersandar di sudut kamar Hendrik, yang sehari-hari tinggal di sekretariat Fopperham. Jemarinya menari memetik dawai. Senandung lirih pun mengalun dari bibirnya. “Saya suka main musik dan olahraga. Juga membatik. Semua latihan sendiri. Pokoknya agar tidak ngelangut (melamun).” Dulu ia adalah seorang guru di TK Melati, yang mengajar di sebuah desa di Gunung Kidul. Masa mudanya aktif berorganisasi. Ia juga menyukai olahraga dan kesenian. Keluar penjara, ia pun menikah. Tak lama, seorang kenalan suaminya menawari menjaga sebuah guest house di pusat kota Yogyakarta. Kunjungan Hendrik membuatnya senang. Ia bisa bercerita apa saja, terutama tentang masa yang paling gemilang dalam hidupnya yakni ketika ia muda. “Dengan anak-anak relawan yang sudah tahu latar belakang kami, saya bisa cerita macam-macam. Yang tidak bisa saya ceritakan ke semua orang…“ Sejak suaminya meninggal ia sendirian menjaga guest house. Pekerjaannya tak berat: menyapu, mengepel dan merapikan tempat tidur para tamu. Ia masih sempat ikut kegiatan penyintas, mulai dari senam lansia, berkebun hingga mocopat. Semua membuatnya semangat dan tak mudah lupa. Pekerjaan telah usai. Sore itu ia hendak latihan mocopat. Hendrik bersiap-siap mengantar.

NO STORY TOO SMALL