Adrian Mulya

ADRIAN MULYA (1974) adalah seorang fotografer independen dengan spesialisasi pada foto dokumenter dan jurnalistik. Ketertarikannya pada fotografi dokumenter tumbuh melalui persahabatannya dengan beberapa fotografer senior di Indonesia dan melalui pendidikan fotografinya di PannaFoto Institute dan Galeri Foto Jurnalistik Antara. Pada bulan Maret tahun 2016 Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan buku foto Adrian yang berjudul Pemenang Kehidupan/Winners of Life, berisi foto potret Perempuan penyintas ’65. Tahun 2019 mengikuti workshop “My Story, shared history” di Salihara dan menghasilkan karya “So Far So Close” ditampilkan di Galeri Salihara (2019) dan Galerija Jakopic, Ljubljana, Slovenia (2020). “So far So Close”, bercerita tentang bagaimana kebijakan negara dan implikasinya terhadap sejarah keluarga Adrian. Saat ini ia sedang mengerjakan beberapa proyek, di antaranya proyek lanjutan dari Pemenang Kehidupan tentang grup paduan suara Dialita yang beranggotakan generasi ke dua dari penyintas 65. Kemudian yang sedang berjalan juga adalah "Keroncong Irama Jakarta" yang mengangkat cerita tentang musik grup Betawi dan kaitannya dengan isu keragaman di Jakarta.

Two Folded Stories

20/70

Dalam lipatan lusuh sejarah republik ini, ada sejumlah kisah yang hingga kini masih menyisakan luka. Para penyintas 65 sebagian besar telah menua, kesepian, tak jarang sakit-sakitan. Bertemu dan bersendau-gurau dengan para kolega merupakan asupan energi dan kebahagiaan tersendiri. Sayang, kondisi fisik dan rentang jarak membuat banyak dari mereka tak bisa lagi aktif hadir dalam pertemuan.

Forum Pendidikan dan Perjuangan Hak Asasi Manusia (Fopperham) menggagas sebuah program kunjungan relawan mahasiswa kepada para penyintas. Diberi nama One Week One Mother. Dalam sehari, mereka menemani kegiatan mbah-mbah, mendengarkan mereka bercerita atau mengantar belanja. Diselenggarakan sejak 2014, hingga kini telah sampai pada angkatan ke-6.

Pertama kali bertemu dengan Mbah Sarjilah, Hendrik merasa gamang. Kisah yang kerap ia saksikan dari film dan ia baca dari buku-buku sungguh berbeda dengan kesan ketika berhadapan langsung dengan para penyintas. Demikian juga yang dirasakan oleh Siti, Munti, Dyah dan Sapar.

Mbah Sutilah gembira ketika dikunjungi oleh para relawan mahasiswa. Ia merasa diterima, diuwongke (dimanusiakan), dan bisa bercerita tentang masa muda mereka – sesuatu yang tak bisa dikisahkan kepada orang lain. Perasaan serupa juga bersemayam di relung hati Mbah Kemirah, Mbah Sarjiyah, Mbah Surati dan Mbah Sujilah.

Ini adalah perjumpaan dua generasi yang terpaut umur lebih dari 50 tahun. Terpisahkan oleh tembok tebal narasi sejarah Orde Baru. Kini ruang- ruang perjumpaan telah melekatkan hati keduanya. Para orangtua, yang telah tersingkir dari masyarakat dan – tak jarang — dari keluarganya sendiri, seperti menemukan cucu baru yang memberi sebongkah cinta dan rasa percaya. Anak-anak muda, yang selama ini dipaksa menelan narasi sejarah tunggal versi Orde Baru, lantas menemukan ruang untuk belajar tentang sejarah bangsa, tentang dignity dan keberdayaan, langsung dari tuturan para penyintas.

NO STORY TOO SMALL